Sabtu, 25 Maret 2017

Azas-Azas Pengetahuan Lingkungan

Suatu ilmu yang sudah berkembang dan mengeluarkan banyak hasil, model, dan teori yang semakin meningkat jumlahnya seperti ilmu lingkungan ini harus disadari oleh asas yang kokoh dan kuat. Asas dasar ilmu lingkungan adalah hasil kerja sistem deduksi dan induksi, oleh karena itu penyajiannya harus memungkinkan sesorang bertindak secara demikian pula. Dengan kata lain asas dasar yang dikemukakan disini adalah hasil deduksi atas asas dasar sebelumnya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk mengolah data secara induksi.
Asas yang dikemukakan telah diberikan nomor untuk memudahkan mengingat kembali atau mneguhubungkannya dengan asas dasar lain. Implikasi asas dasar sesuai dengan gejala yang menyangkut diri manusia didalam zaman ilmu dan teknologi tetapi sering dilupakan. Berikut adalah beberapa asas dalam ilmu lingkungan :
       ·           ASAS 1
Menyatakan bahwa semua energi yang memasuki sebuah organisme, populasi, atau ekosistem yang dianggap sebagai energi tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain, serta tidak dapat hilang, dihancurkan, maupun diciptakan. Asas ini adalah sebenarnya serupa dengan hokum Thermodinamika I, yang sangat fundamental dalam fisika. Asas ini dikenal sebagai hukum konservasi energi dalam persamaan matematika.
Contoh banyaknya kalori, energi yang terbuang dalam bentuk makanan diubah oleh jasad hidup menjadi energi untuk tumbuh, berbiak, menjalankan proses metabolisme, dan yang
terbuang sebagai panas.
       ·           ASAS 2
Menyatakan bahwa tidak ada sistem perubahan energi sangat efisien. Misalnya pada Hukum Termodinamika II yaitu “Semua sistem biologi kurang efisien, kecenderungan umum, energi berdegradasi ke dalam bentuk panas yang tidak balik dan beradiasi menuju angkasa.”
       ·           ASAS 3
Menyatakan bahwa materi, energi, ruang, waktu dan keanekaragaman, semuanya termasuk pada sumber alam. Asas ini merupakan Pengubahan energi oleh system biologi harus Berlangsung pada kecepatan yang sebanding dengan adanya materi dan energi dilingkungannya. Pengaruh ruang secara asas adalah beranalogi dengan materi dan energi sebagai sumber alam.
Contohnya ruang yang sempit: dpt mengganggu proses pembiakan organisme dengan kepadatan tinggi. Ruang yang terlalu luas, jarak antar individu dalam populasi semakin jauh, kesempatan bertemu antara jantan dan betina semakin kecil sehingga pembiakan akan terganggu. Jauh dekatnya jarak sumber makanan akan berpengaruh terhadap perkembangan populasi.
Waktu sebagai sumber alam tidak merupakan besaran yang berdiri sendiri. Misal hewan mamalia dipadang pasir, pada musim kering tiba persediaan air habis di lingkungannya, maka harus berpindah kelokasi yang ada sumber airnya. Berhasil atau tidaknya hewan bermigrasi tergantung pada adanya cukup waktu dan energi untuk menempuh jarak lokasi
sumber air.
Asas 3 ini mempunyai implikasi yang penting bagi kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraannya

       ·           ASAS 4
Menyatakan bahwa semua kategori sumber alam, jika pengadaannya telah maksimal, pengaruh unit kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumber alam sampai ke tingkat maksimum.
Asas 4 tersebut terkandung arti bahwa pengadaan sumberalam mempunyai batas optimum, yang berarti pula batas maksimum, maupun batas minimum pengadaan sumberalam akan mengurangi daya kegiatan sistem biologi.
       ·           ASAS 5
Menyatakan bahwa terdapat dua jenis sumber alam, yaitu sumber alam yang pengadaannya dapat merangsang penggunaan, dan tidak mempunyai daya rangsang penggunaan.
       ·           ASAS 6
Menyatakan bahwa Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya, cenderung akan berhasil mengalahkan saingannya tersebut.
Asas ini adalah pernyataan teori Darwin dan Wallace. Pada jasad hidup terdapat perbedaan sifat keturunan Dalam hal tingkat adaptasi terhadap faktor lingkungan fisik atau biologi. Kemudian timbul kenaikan kepadatan populasinya sehingga timbul persaingan. Jasad hidup yang kurang mampu beradaptasi akan kalah dalam persaingan. Dapat diartikan pula bahwa
jasad hidup yang adaptif akan mampu menghasilkan banyak keturunan daripada yang non-adaptif.

       ·           ASAS 7
Menyatakan bahwa kemantapan pada keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam lingkungan yang mudah diramal.
       ·           ASAS 8
Menyatakan bahwa sebuah habitat dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman takson. Hal tersebut bergantung kepada bagaimana nicia dalam lingkungan hidup dapat memisahkan takson.
Pengertiannya adalah kelompok taksonomi tertentu dari suatu jasad hidup ditandai oleh keadaan lingkungannya yang khas (niche), tiap spesies mempunyai niche tertentu. Spesies dapat hidup berdampingan dengan spesies lain tanpa persaiangan, karena masing-masing mempunyai keperluan dan fungsi yang berbeda di alam.
  §                 ASAS 9
Menyatakan bahwa keanekaragaman komunitas apa saja sebanding dengan biomasa dibagi produktivitasnya. Terdapat hubungan antara biomasa, aliran energi, dan keanekaragaman dalam suatu sistem biologi.
    §                       ASAS 10
Menyatakan bahwa lingkungan yang stabil perbandingan antara biomasa dengan produktivitas dalam perjalanan waktu naik mencapai sebuah asimtot. Sistem biologi menjalani evoluasi yang mengarah pada peningkatan efisiensi penggunaan energi pada lingkungan fisik yang stabil.
    §                      ASAS 11
Menyatakan bahwa sistem yang telah mantap mengeksploitasi sistem yang belum mantap. Arti dari asas ini adalah pada ekosistem, populasi yang sudah dewasa memindahkan energi, biomassa, dan keanekaragaman tingkat organisasi ke arah yang belum dewasa. Dengan kata lain, energi, materi dan keanekaragaman mengalir melalui suatu kisaran yang
menuju ke arah organisasi yang lebih kompleks, atau dari subsistem yang lebih rendah keanekaragamannya ke subsistem yang lebih tinggi keanekaragamannya. Contohnya seperti pada hama tikus, serangga dari hutan rawa menyerang tanaman pertanian dilahan transmigran.
    §                        ASAS 12
Menyatakan bahwa kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat tergantung kepada kepentingan relatifnya pada keadaan lingkungan. Pengertian dari asas ini adalah populasi dalam ekosistem yang belum mantap, kurang bereaksi terhadap perubahanlingkungan fisikokimia dibandingkan dengan populasi dalam ekosistem yang sudah mantap. Populasi dalam lingkungan dengan kemantapan fisiko kimia yang cukup lama, tak perlu berevolusi untuk meningkatkan kemampuannya beradaptasi dengan keadaan yang tidak stabil.
                        ASAS 13
Menyatakan bahwa ingkungan yang secara fisik telah mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman biologi pada ekosistem yang mantap, serta kemudian dapat menggalakkan kemantapan populasi lebih jauh.
Asas ini merupakan penjabaran dari asas 7, 9 dan 12. Pada komunitas yang mantap, jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat, sehingga apabila terjadi suatu goncangan pada salah satu jalur, maka jalur yang lain akan mengambil alih, dengan demikian komunitas masih tetap terjaga kemantapannya.
    §                       ASAS 14
Menyatakan bahwa derajat pola keteraturan naik-turunnya populasi tergantung kepada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang akan mempengaruhi populasi tersebut. Asas ini merupakan kebalikan dari asas ke 13, tidak adanya keanekaragaman yang tinggi pada rantai makanan dalam ekosistem yang belum mantap, menimbulkan derajat ketidakstabilan populasi yang tinggi.
Ciri-Ciri Lingkungan/ Komunitas yang Mantap:
      a.       Jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat (banyak)
      b.      Lingkungan fisik mantap (mudah“diramal”)
      c.       Sistem control umpan balik (feedback) komunitas sangat kompleks
      d.      Efisiensi penggunaan energi
      e.       Tingkat keanekaragaman tinggi.

Sumber: http://mynotesfff.blogspot.co.id/2016/03/asas-asas-pengetahuan-lingkungan.html

Ekologi Dan Ilmu Lingkungan

   Ilmu lingkungan merupakan “ekologi” yang menerapkan berbagai azas dan konsepnya kepada masalah yang lebih luas, yang menyangkut pula hubungan manusia dengan lingkungannya. Ilmu Lingkungan adalah ekologi terapan. Ilmu lingkungan ini mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara jasad hidup (termasuk manusia) dengan dengan lingkungannya. Ilmu Lingkungan juga dimaknai sebagai suatu studi (kajian) yang sistematis mengenai lingkungan hidup dan kedudukan manusia yang layak di dalamnya. Perbedaan utama “ilmu lingkungan” dan “ekologi” adalah dengan adanya misi untuk mencari pengetahuan yang arif, tepat (valid), baru, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak perlakuan manusia terhadap alam. Misi tersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran, penghargaan, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan hidupnya secara menyeluruh.

Ilmu lingkungan merupakan perpaduan konsep dan asas berbagai ilmu (terutama ekologi, ilmu lainnya: biologi, biokimia, hidrologi, oceanografi, meteorologi, ilmu tanah, geografi, demografi, ekonomi dan sebagainya), yang bertujuan untuk mempelajari dan memecahkan masalah yang menyangkut hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Ilmu lingkungan merupakan penjabaran atau terapan dari ”ekologi”.
 
Pengertian Ekologi dan Lingkungan     Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos yang berarti habitat dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 – 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Secara harfiyah Ekologi adalah pengkajian hubungan organisme-organisme atau kelompok organisme terhadap lingkungannya. Ada juga yang mengatakan bahwa ekologi adalah suatu ilmu yang mencoba mempelajari hubungan antara tumbuhan, binatang, dan manusia dengan lingkungannya di mana mereka hidup, bagaimana kehidupannya, dan mengapa berada di tempat tersebut.
Ekologi merupakan salah satu cabang Biologi yang hanya mempelajari apa yang ada dan apa yang terjadi di alam dengan tidak melakukan percobaan. Tetapi biasanya ekologi didefinisikan sebagi pengkajian hubungan organisme-organisme atau kelompok-kelompok organisme terhadap lingkungannya, atau ilmu hubungan timbal-balik antara organisme-organisme hidup dan lingkungannya. Sebab ekologi memperhatikan terutama biologi “golongan-golongan” organisme dan dengan proses-proses fungsional di daratan dan air adalah lebih tetap berhubungan dengan upaya mutakhir untuk mendefinisikan ekologi sebagai pengkajian struktur dan fungsi alam, telah dipahami bahwa manusia merupakan bagian dari pada alam. Menurut Odum (1971) ekologi mutakhir adalah suatu studi yang mempelajari struktur dan fungsi ekosistem atau alam di mana manusia adalah bagian dari alam. Struktur di sini menunjukan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk kerapatan atau kepadatan, biomas, penyebaran potensi unsur-unsur hara (materi), energi, faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan sistem tersebut. Sedangkan fungsinya menggambarkan sebab-akibat yang terjadi dalam sistem. Jadi pokok utama ekologi adalah mencari pengertian bagaimana fungsi organisme di alam.
Pengertian akan Lingkungan Hidup telah banyak sekali dikemukakan oleh beberapa ahli lingkungan. Menurut Otto Soemarwoto pengertian lingkungan hidup adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Sedangkan Munadjat Danusaputro memberikan pengertian lingkungan hidup sebagai semua benda dan kondisi termasuk di dalamnya manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang tempat manusia berada dan mempengaruhi hidup dan kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya (Siahaan, 1987:1). Menurut Ehrlich dan kawan-kawan merumuskan tentang lingkungan sebagai berikut (Ehrlich, Holdren, 1973:38):  “For our purpose, the environment is the unique skin of soil, water, gaseous, atmosphere, mineral nutrients, and organisms that covers this otherwise undistinguished planet”.
Pemerintah Indonesia dalam UU Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997 memberikan pengertian Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Sesuai dengan pengertian lingkungan Hidup diatas, maka perlu diketahui tentang adanya pembagian Lingkungan Hidup; dengan tujuan mencari pola pengelolaan yang ditentukan dan dikehendaki. L.L. Bernard (dalam Siahaan, 1987:12) membagi lingkungan atas empat macam, yaitu :
  1. Lingkungan fisik (anorganik), lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisigeografis :tanah, udara, air, radiasi, gaya tarik, ombak dan sebagainya
  2. Lingkungan biologi (organik),segala sesuatu yang bersifat biotis
  3. Lingkungan Sosial , terdiri dari :
    1. Fisiososial, yaitu yang meliputi kebudayaan materiil : peralatan, senjata, mesin, gedung dan sebagainya
    2. Biososial manusia dan bukan manusia, yaitu manusia dan interaksi terhadap sesamanya dan hewan beserta tumbuhan domestik dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber organik
    3. Psikososial, yaitu yang berhubungan dengan tabiat bathin manusia, seperti sikap, pandangan, keinginan, keyakinan. Hal ini terlihat dari kebiasaan, agama, ideologi, bahasa dan lain-lain
  4. Lingkungan Komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga-lembaga masyarakat
Tetapi ada juga beberapa sarjana yang hanya memberikan tiga macam pembagian lingkungan hidup, yaitu :
  1. Lingkungan fisik (Physical Environment),  yaitu segala sesuatu di sekitar kita yang bersifat benda mati, seperti : air, sinar, gedung dan lainnya
  2. Lingkungan biologis (Biological Environment),  yaitu segala sesuatu yang ada di sekitar kita yang bersifat organis, seperti manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya
  3. Lingkungan Sosial (Social Environment), yaitu manusia-manusia lain yang berada di sekitar kita atau kepada siapa kita mengadakan hubungan pergaulan.
Sifat lingkungan ditentukan oleh berbagai hal, diantaranya :
  1. Jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan tersebut
Lingkungan yang terdiri dari (10) manusia, (1) anjing,(3) burung, (1)pohon kelapa, (1) bukit batu, akan berbeda sifatnya dengan lingkunganyang terdiri dari (1) manusia, (10) anjing, tertutup rimbun pohon bambo,tanpa bukit batu (rata).
  1. hubungan atau interaksi antara unsur dalam dalam lingkungan tersebut
Dua ruangan yang luasnya sama, dilengkapi perabot yang sama pulanamun dengan lay out berbeda, akan menghasilkan sifat ruangan yangberbeda pula.
  1. faktor kelakuan (kondisi) unsur lingkungan hidup
Sebagai contoh, kota dengan penduduk yang aktif dan bekerja kerasakan memiliki lingkungan yang lain dengan sebuah kota yang sikappenduduknya santaidan malas bekerja. Atau, lingkungan daerah yangberlahan landai dan subur dengan yang berlereng dan tererosi.
  1. non material
lingkungan panas, silau, dan bising akan berbeda dengan lingkungan sejuk yang dengan cahaya cukup tapi tenang.
Dalam ekologi hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya (ekosistem) bersifat objektif, manusia dipandang sama dengan mahluk hidup lain, pandangan hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat subyektif. Dalam ilmu lingkungan manusia mempunyai hak khusus, semuanya dipandang dari kepentingan manusia, tetapimanusia juga harus mempunya tanggung jawab yang paling besar terhadap lingkunanya dimana tanggung jawab ini tidak mungkin diserahkan kepada mahluk hidup lain. Disinilah perlunya kita mempelajari lingkungan hidup, agar kita dapat menempatkan diri sesuai dengan porsinya didalam lingkungan yang harus kita jaga. Adapun perbedaan utama antara Ilmu lingkungan dan ekologi adalah adanya misi untuk mencari pengetahuan yang arif, tepat, batu, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak perlakuan manusia terhadap alam.
Misi tersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran, penghargaan, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan secara menyeluruh. Ilmu lingkungan juga tidak lepas dari perilaku manusia itu sendiri sebagai suatu komponen lingkungan yang paling dominan. Sebab manusia senantiasa mengolah, mengambil dan mengembangkan sesuatu yang ada di alam itu sendiri. Untuk mencapai keseimbangan lingkungan, otomatis diperlukan kesadaran dari manusia agar merasa memiliki dan mencintai segenap mahluk h idup dan alam lingkungannya sebagai tempat hidupnya.
 
 Sumber: https://dewiwiliyanti.wordpress.com/2015/03/29/ekologi-dan-ilmu-lingkungan-2/

Rabu, 11 Januari 2017

Riview Jurnal Ergonimic In The Work Place

REVIEW JURNAL
ERGONOMICS IN THE WORKPLACE
Jeffrey E. Fernandez, PhD, PE, CPE
Michael Goodman, MD, MPH
Exponent Health Group
Alexandria, V A

ABSTRAKSI
Penulis menjelaskan jika tujuan utama dari ergonomi adalah untuk menyesuaikan tugas individu, bukan individu untuk tugas. Prinsip-prinsip ergonomi umum yang harus diterapkan untuk tempat kerja termasuk bertujuan untuk dinamis dibandingkan pekerjaan statis, mengoptimalkan ketinggian permukaan kerja, menghindari kelebihan otot, menghindari postur tidak wajar, dan melatih individu untuk menggunakan tempat kerja, fasilitas, dan peralatan benar. Artikel ini lebih membahas beberapa komponen penting dari ergonomi termasuk antropometri, desain kursi, penanganan bahan manual, dan berfokus pada gangguan muskuloskeletal yang paling umum (MSDS) seperti gangguan trauma kumulatif dan cedera punggung bawah.

PENGANTAR
Ergonomi didefinisikan sebagai studi tentang desain tempat kerja, peralatan, mesin, alat, produk, lingkungan, dan sistem yang mempertimbangkan manusia fisik, fisiologis, biomekanik, dan kemampuan psikologis dan mengoptimalkan efektivitas dan produktivitas sistem kerja sementara menjamin keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan pekerja (Fernandez dan Marley, 1998). Ketika mengembangkan desain pekerjaan tertentu, tuntutan tugas idealnya diselenggarakan dalam kapasitas persentase tetap dari penduduk yang bekerja (sehingga 75-95 persen dari populasi ditampung).
Penerapan prinsip-prinsip ergonomis di tempat kerja dapat mengakibatkan berikut:
• Peningkatan produktivitas.
• Peningkatan kesehatan dan keselamatan pekerja;
• Kepatuhan terhadap peraturan pemerintah seperti Administrasi Keselamatan dan Standar Kesehatan (OSHA).
• Peningkatan kepuasan kerja;
• kualitas kerja Peningkatan;
• pergantian pekerja lebih rendah;
• Bawah kehilangan waktu di tempat kerja;
• Peningkatan moral pekerja;
• tingkat absensi Penurunan
Karena fokus ergonomi adalah pada orang, seringkali mudah untuk memikirkan masalah-ergonomis terkait dengan jenis sistem tubuh, yang dipengaruhi. Sistem muskuloskeletal adalah salah satu contoh. Tuntutan fisik banyak pekerjaan membuat sistem muskuloskeletal sangat rentan terhadap berbagai cedera dan penyakit akibat kerja.
Artikel ini membahas isu-isu ergonomis kunci seperti antropometri, desain kursi, prinsip kerja, pengguna bahan penanganan, dan gangguan trauma kumulatif. Isu-isu penting perlu dipahami dan diterapkan jika tujuannya adalah untuk mengurangi cedera yang berhubungan dengan pekerjaan, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kualitas hidup para pekerja.

ANTROPOMETRI
Antropometri dapat diartikan sebagai pengukuran (misalnya, tinggi, panjang siku-pergelangan tangan, dll) manusia. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengukuran antropometri meliputi jenis kelamin, etnis, pertumbuhan dan perkembangan, trend sekuler, penuaan, kelas sosial, dan pekerjaan, serta pakaian dan perlengkapan pribadi.
Teks ini telah menyusun database antropometri yang komprehensif. tenaga kerja yang berbeda di berbagai belahan dunia dan beragam. Oleh karena itu, penting untuk merancang tempat kerja berdasarkan antropometri pengguna. Pengukuran antropometrik setiap orang dibandingkan dengan nilai-nilai yang diamati pada populasi umum dan dinyatakan sebagai persentil. Persentil defmed sebagai satu set divisi yang memproduksi tepat 100 bagian yang sama dalam serangkaian nilai-nilai yang berkesinambungan. (Terakhir 1988) Dengan demikian orang yang tingginya di atas persentil ke-90 adalah lebih tinggi dari 90% dari semua orang dalam seri. Nilai terkecil dari pengukuran biasanya dikaitkan dengan persentil perempuan 5, dan nilai terbesar dari pengukuran biasanya dikaitkan dengan persentil laki-laki 95.

PRINSIP DESAIN ERGONOMI DI TEMPAT KERJA
Beberapa prinsip ergonomi yang harus diterapkan untuk tempat kerja, apakah dalam industri atau lingkungan kantor, meliputi:
(1) Bertujuan kerja yang dinamis, menghindari pekerjaan statis (kerja di mana tidak ada gerakan). kerja statis atau pembebanan statis otot tidak efisien dan mempercepat kelelahan. kerja statis dapat terjadi ketika tempat kerja terlalu tinggi atau terlalu rendah, ketika memegang berat di tangan seseorang untuk jangka, atau ketika ada lentur konstan kembali ke perfolIu tugas.
(2) Sesuaikan ketinggian permukaan kerja dengan ukuran (antropometri) dari pekerja dan jenis tugas yang dilakukan (presisi, perakitan ringan, atau manual yang berat).
(3) Bekerja dalam 30 persen dari kontraksi sukarela maksimal seseorang (kekuatan). Menghindari kelebihan dari sistem otot.
(4) Tempatkan kontrol utama, perangkat, dan benda kerja dalam wilayah kerja normal. kontrol sekunder harus ditempatkan dalam the'maximum wilayah kerja sehingga dapat mengurangi mencapai diperpanjang dan kelelahan.
(5) Berusaha untuk keuntungan mekanis terbaik dari tulang. sistem.
(6) Bekerja dengan kedua tangan. Jangan gunakan satu tangan (hand nonpreferred) sebagai perangkat holding biologis.
(7) Tangan harus bergerak di s arah ymmetrical dan berlawanan.
(8) Gunakan kaki serta tangan.
(9) Desain mengetahui kapasitas jemari. Jangan membebani jemari.
(10) Gunakan gravitasi. Tidak menentang untuk membuang produk bisa dipecahkan.
(11) A postur urmatural batal. Tekuk gagang alat. tidak pergelangan tangan.
(12) Perubahan Izin dari postur. Pertahankan posisi duduk yang tepat.
(13) alat Counter-keseimbangan ketika mungkin untuk mengurangi berat badan dan kekuatan.
(14) Mengakomodasi individu besar dan memberinya atau ruang yang cukup nya.
(15) Gunakan tempat sampah dengan bibir untuk penyimpanan dan pengambilan manual bagian kecil bukan kotak. kontainer miring sehingga dapat mengurangi postur canggung tubuh.
(16) Melatih individu untuk menggunakan tempat kerja, fasilitas dan peralatan benar.

GANGGUAN TRAUMA KUMULATIF
Gangguan trauma kumulatif (CTDs) didefinisikan sebagai luka fisik, yang berkembang selama periode waktu sebagai akibat dari tekanan biomekanik atau fisiologis diulang pada bagian tubuh tertentu. CTDs adalah istilah kolektif untuk sindrom yang ditandai dengan ketidaknyamanan, gangguan, cacat, atau nyeri persisten pada sendi, otot, tendon dan jaringan lunak lainnya (Kroemer, 1989). tenus lain, yang juga digunakan untuk menggambarkan gangguan ini, termasuk cedera berulang trauma (RTI), cedera regangan berulang (RSI), gangguan muskuloskeletal (MSD), dan sindrom berlebihan kerja. Sejak cedera ini berkembang selama periode waktu yang relatif lama (bulan atau tahun), sulit untuk menentukan seberapa sering CTDs terjadi. CTDs umumnya dianggap kerja terkait dan cenderung lebih umum di kalangan orang-orang bekerja daripada di antara populasi umum. Telah ada peningkatan yang signifikan dalam jumlah kasus CTDs yang dilaporkan di Amerika Serikat 1981-1996 (US Dept of Labor, 1998). Beberapa alasan untuk peningkatan ini dapat mencakup perubahan dalam teknologi, tenaga kerja penuaan, penurunan kemampuan fisik pekerja baru, tarif yang lebih rendah dari turnover pekerja, peningkatan kesadaran dan diagnosis, dan perubahan dalam pelaporan metode. Peningkatan jumlah kasus CTDs berarti biaya yang terkait juga telah meningkat secara signifikan.
Putz-Anderson (1988) merangkum penelitian yang relevan pada CTDs, menjelaskan empat faktor risiko pekerjaan utama. Ini termasuk postur canggung, gaya manual berlebihan, tingginya tingkat pengulangan manual, dan durasi tugas yang panjang (atau sisa yang tidak memadai). Selain keempat faktor tersebut pembebanan statis juga dapat meningkatkan risiko CTDs (Feandez dan Marley, 1990). pembebanan statis terjadi ketika otot-otot yang diperlukan untuk menghasilkan ketegangan tanpa gerakan. kerja statis sangat tidak efisien dan menyebabkan otot kelelahan cepat. Getaran adalah faktor lain, yang telah terlibat dalam pengembangan CTDs. Getaran menyebabkan penyempitan pembuluh darah di jari serta mati rasa dan pembengkakan pada jaringan tangan. Hal ini menyebabkan penurunan kekuatan pegangan. Setiap pekerjaan, yang melibatkan satu atau lebih faktor risiko tersebut, akan memiliki probabilitas tinggi CTDs menyebabkan tergantung pada beratnya masing-masing faktor. Potensi untuk pengembangan CTDs 'meningkat ketika kegiatan waktu luang seperti menjahit, berkebun, dan woodworking terus saring ligamen dan otot. Selain itu, sebagai usia rata-rata dari bekerja populasi Meningkatkan, kekuatan dan fleksibilitas berkurang. Ini juga faktor penting, yang dapat berkontribusi pada pengembangan CTDs (Chaffin dan Anderson, 1991). Putz-Anderson (1988) diuraikan tiga kategori utama CTDs atas ekstremitas: gangguan tendon, gangguan neurovaskular, dan gangguan jeratan saraf.

Gangguan Tendon
tendon adalah jenis khusus dari jaringan, yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendon dikelilingi oleh selubung dari jaringan fibrosa yang melindungi jaringan dari gesekan. sarung berisi membran sinovial yang memfasilitasi meluncur dari tendon selama tindakan mekanik. gangguan kecil dari tendon dan selubung mereka sangat umum (Putz-Anderson, 1988).
Tendinitis: Tendinitis adalah peradangan pada tendon terjadi dari tindakan berulang unit otot / tendon. karena tendon hampir tidak memiliki suplai darah, mereka tidak mampu memperbaiki diri dan kerusakan menjadi tambahan (Rowe, 1985). Akumulasi hasil kerusakan kecil di tendon yang kasar, yang dapat menghasilkan gesekan dan iritasi sarungnya. Pada akhirnya, tendon mungkin menjadi begitu lemah yang pecah. Tanpa istirahat atau waktu yang cukup untuk jaringan untuk menyembuhkan, tendon mungkin rusak secara permanen (Curwin dan Stanish, 1984). Tendinitis adalah paling mungkin terjadi di daerah di mana tendon dibatasi anatomis, seperti di saluran tulang dan terowongan (Curwin dan Stanish, 1984). Contoh akan tendon ibu jari dalam alur radial di pergelangan tangan atau di tendon bersama-mendukung dari manset rotator bahu.
Tenosinovitis: tenosinovitis cukup umum di jari dan pergelangan tangan tendon atau di daerah lain di mana perjalanan tendon dalam selubung sinovial panjang (biasanya dua atau lebih inci). Dalam situasi seperti itu, gerakan berulang (meluncur) dari tendon dalam selubung dapat membanjiri kemampuan pelumas dari sarungnya. Hal ini pada akhirnya akan menghasilkan reaksi inflamasi dalam tendon selubung (Rowe, 1985).
Bursitis: Bursae adalah perangkat anti-gesekan yang ditemukan di seluruh tubuh di mana tonjolan tulang yang dekat dengan permukaan kulit atau di mana tendon dan ligamen dapat bergesekan prominences (Rowe, 1985). Di hadapan gesekan, bursae akan oversecrete cairan pelumas dan kantung bursal akan membesar dan buncit. Jika gesekan terus berlanjut, dinding kantung akan menebal dan menjadi meradang.
Ganelionic kista: Disebabkan oleh pembengkakan selubung tendon dengan cairan sinovial, kista ganglionic umum dan umumnya terkait dengan penggunaan pergelangan Birnbaum, 1986). Meskipun jarang menyebabkan gejala kompresi saraf, kista seperti sering dapat menyakitkan dan biasanya diobati dengan aspirasi atau dengan operasi pengangkatan jika ganglion berulang.

Gangguan Neurovaskular
gangguan neurovaskular adalah mereka CTDs yang melibatkan kedua saraf dan pembuluh darah yang berdekatan. Thoracic sindrom outlet: Mungkin folln paling umum dari gangguan neurovaskular adalah toraks gerai syndrome (Putz-Anderson, 1988). sindrom outlet toraks adalah istilah umum untuk kompresi saraf dan pembuluh darah karena mereka melewati bundel neurovaskular antara leher dan bahu.
Juga dikenal sebagai gangguan cervicobrachial, sindrom outlet toraks umumnya diduga hasil dari beban kerja yang berat dikombinasikan dengan tegang berulang atau posisi statis yang tidak wajar dari lengan (Sallstrom dan Schmidt, 1985). Gejala khas dari sindrom outlet toraks termasuk mati rasa dan kesemutan di jari-jari dan tangan, serta sensasi lengan "akan tidur". Nadi  darah di pergelangan tangan juga bisa menjadi lemah.
Ada sejumlah faktor risiko, yang telah dikaitkan dengan perkembangan CTS. Seperti yang dijelaskan oleh Turner dan Buckle (1987), faktor-faktor risiko dapat dibagi menjadi tiga kategori:
(1) faktor risiko kerja;
(2) kondisi sistemik;
(3) faktor risiko non-kerja.
Faktor risiko pekerjaan yang paling sering dikaitkan dengan CTS meliputi kekuatan, repetitiveness, dan postur (PutzAnderson, 1988). Ketika pekerjaan membutuhkan tingkat tinggi kekuatan dan pengulangan, upaya otot lebih diperlukan. Hal ini meningkatkan kebutuhan untuk peningkatan waktu istirahat atau waktu pemulihan. Tanpa waktu pemulihan yang cukup, cedera kumulatif yang mungkin terjadi. Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas juga diduga menjadi variabel penting dalam pengembangan CTS (Putz-Anderson, 1988, dan Silverstein et al. 1986) kondisi sistemik dapat mencapai sekitar 20-30 persen dari total jumlah kasus CTS, beberapa kondisi ini adalah sebagai berikut:
• Akromegali - Ini adalah gangguan endokrin mana hipofisis yang sedang berlangsung atas-kegiatan tampaknya terkait dengan penampilan CTS.
• Amiloidosis - Deposit amiloid telah ditemukan di terowongan karpal pasien dengan gangguan ini.
• Diabetes mellitus - Telah dilaporkan bahwa sekitar 5-16 persen dari kelompok tertentu pasien CTS tampak penderita diabetes.
• Hyperpamthyroidism - primer dan sekunder (akibat ginjal disfungsi) hiperparatiroidisme telah dikaitkan dengan perkembangan CTS.
• Hypothyroidism dan myoedema - Ini adalah gangguan endokrin yang telah dikaitkan dengan CTS.
• Gagal ginjal - hemodinamik Diubah dari prosedur dialisis mungkin terkait dengan pembangunan CTS.
• Rheumatoid arthritis - Ini telah Beeri melaporkan bahwa sekitar 7-11 persen pasien CTS menderita gangguan ini.
Beberapa faktor risiko non-kerja yang tampaknya terkait dengan pengembangan CTS adalah:
• Riwayat keluarga - Salah satu jenis bilateral CTS telah dilaporkan menjadi gangguan diwariskan ditularkan oleh gen dominan autosomal.
• Gender - penderita Perempuan CTS cenderung melebihi jumlah penderita laki-laki dengan 09:58.
• bedah ginekologi - Sebuah histerektomi dengan ophorectomy bilateral dan penggunaan alat genggam getaran telah dikaitkan dengan CTS.
• Menopause - Wanita usia menopause berada pada peningkatan risiko untuk mengembangkan CTS.

PENUTUP
Menyadari pentingnya ergonomi kesehatan dan keselamatan kerja, OSHA mengusulkan standar ergonomi (lihat www.osha-slc.gov/ergonomics-standarQD pada akhir tahun 1999. Jika fmalized, standar akan mempengaruhi sektor luas dari bisnis Amerika dan industry, dari manufaktur berat untuk pengaturan kantor standar yang diusulkan mengidentifikasi enam elemen untuk program ergonomi penuh. Kepemimpinan manajemen dan partisipasi karyawan, informasi bahaya dan pelaporan, analisis bahaya kerja dan kontrol, pelatihan, manajemen MSD dan evaluasi program. OSHA bermaksud bahwa program ergonomi menjadi pekerjaan berbasis, yaitu, mencakup hanya pekerjaan tertentu di mana risiko mengembangkan MSD ada dan pekerjaan seperti itu yang mengekspos pekerja lain untuk bahaya yang sama, perkembangan terakhir di arena peraturan jelas menunjukkan bahwa. pemahaman ergonomi dan menerapkan praktek ergonomis yang baik adalah kunci untuk keberhasilan pengelolaan sumber daya manusia. cedera banyak perusahaan yang menyadari bahwa membuat perubahan ergonomis sebelum masalah besar terjadi (proaktif ergonomi) adalah biaya yang lebih efektif daripada hanya menanggapi terkait dengan pekerjaan (reaktif ergonomi).
Ergonomi tidak lagi hanya sebuah kata kunci; sekarang meliputi setiap aspek kehidupan kita baik di kantor maupun di rumah.

Sumber: www.seas.columbia.edu/earth/wtert/sofos/nawtec/nawtec08/nawtec08-0019.pdf

Selasa, 03 Januari 2017

Review Primary and Secondary Data



Review Primary and Secondary Data

Jurrnal ini membahas tentang data primer dan data sekunder, sebagai pembuka akan membahas apa itu data serta dua tipe data tersebut. Data adalah salah satu hal yang penting dan vital dalam sebuah penelitian. Data merupakan dasar dari studi statistika dan dalam penelitian data tersebut akan diedit, dibuat kode, dan dianalisis menggunakan prosedur statistika. Data memiliki dua tipe, yaitu Data Primer dan Data Sekunder. Jurnal ini akan membahas perbedaan dari masing-masing tipe data tersebut.

Data Primer
Pertama, penjelasan mengenai data primer dibuat dengan cukup baik. Jurnal ini meneyebutkan jika data primer merupakan data yang didapatkan dari first-hand-experience atau didapatkan secara langsung dari sumbernya. Data primer belum dipublikasi dan lebih dipercaya, lebih autentik, juga bersifat objektif.
Kelebihan data primer:
1.    Data primer merupakan data yang valid.
2.    Data primer merupakan data yang autentik (persis seperti sumber dilapangan).
3.    Data primer merupakan data yang dapat dipercaya keasliannya.
Untuk mendapatkan data primer menggunakan beberapa sumber, yaitu:
1.    Data primer didapat dengan melakukan percobaan.
2.    Data primer didapat dengan melakukan survey. Berikut ini merupakan beberapa macam metode survey yang digunakan:
a.    Kuesioner, merupakan metode yang lebih sering digunakan untuk menapatkan data primer.
b.    Interview, merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan data primer dengan sebuah Tanya jawab dengan responden.
c.    Observasi, merupakan metode pengumpulan data dengan memperhatikan respoden ketika dia sedaang melakukan kegiatan dan ia mengetahui sedang diperhatikan atau tidak oleh observator.

Data Sekunder
Data sekunder adalah data  yang didapatkan atau dikumpulkan dari data yang sudah dipublikasikan. Rata-rata data sekunder didapatkan dari buku, jurnal, dan catatan. Data sekunder mungkin saja tidak valid, tetapi inti dari data masih terdapat didalamnya. Ketika pegambilan data primer tidak memungkinkan, dapat menggunakan data sekunder sebagai salah satu cara yang mudah didapat.
Sumber dari data sekunder
Data sekunder menjadi mudah didapatkan setelah masuk media elektronik atau internet. Berikut ini merupakan beberapa sumber dari data sekunder.
1.  Buku, kini sudah banyak tersedia dengan berbagai topik yang dibutuhkan. Buku merupakan sumber data sekunder yang paling otentik.
2.  Jurnal, menjadi sangat penting selama pengumpulan data sudah terpusat. Jurnal menjadi penting karena tersedia dalam topik yang lebih spesifik dari buku yang mungkin sangat dibutuhkan.
3.  Majalah/Koran, majalah mungkin efektif namun kurang dapat dipercaya. Sedangkan koran dapat lebih dipercaya karena dalam beberapa kasus hanya terdapat didalam koran, contohnya kasus politik.
4.  Sumber elektronik yang sudah dipublikasi, internet merupakan sumber data yang cepat didapat dan mudah diakses umum.
5.  E-Jurnal, lebih mudah diakses dan tersedia dari pada jurnal yang telah berbentuk hard copy.
6.  Website, pada umumnya data yang terdapat didalam website tidak dapat dipercaya sehingga isi dari website tersebut perlu dicek keberanannya sebelum digunakan dalam penelitian.
7.  Weblog, isi dari weblog biasanya dapat dipercaya karena berisi data yang dibuat secara personal.
8.  Rekaman pribadi yang tidak dipublikasi, data yang tidak dipublikasi bias menjadi data yang dapat dipercaya karena berasal dari diary atau surat-surat.
9.  Arsip pemerintah, sangat penting digunakan untuk marketing, manajemen, kemanusiaan, dan penelitian social. Contohnya, data sensus, arsip kesehatan, dan arsip pendidikan.